Cari

duduoel

Silsilah Nabi Muhammad

Love Prophet Muhammad SAW

duduul.com

Silsilah Nabi Muhammad

silsilah nabi muhammad saw

Lihat pos aslinya

Tipe Darahku : AB

hahaha itu agak agak mirip yang B.. keren gan, lanjutkan

RYAN UNTUK INDONESIA

Ada sesuatu yg menarik ketika membaca sebuah artikel yang menggolongkan orang dalam beberapa kelompok karakter berdasarkan golongan darah. Ini beberapa hasil penelitiannya…

Lihat pos aslinya 165 kata lagi

Mengapa harus berjihad II ??

Risalah sederhana yang menjelaskan sedikit tentang alasan mengapa kita harus berjihad yang dalil-dalilnya saya kutip dari beberapa buku (terutama risalah yang ditulis oleh salah seorang  syuhada’ dibumi Indonesia “Mengapa saya memilih jalan ini”)…sebagai hujjah untuk saudara-saudaraku mujahideen fie sabilillah (sabarlah, semoga Allah menyabarkan kalian, sungguh jalan inilah jalan yang telah dilalui para salafush shalih..jalan jihad) dan sebagai bayan untuk mereka yang masih tertinggal dari jihad.

1. Untuk memenuhi panggilan Allah subhanahu wa ta’ala

Ikhwatiy fillah…dengarlah firman Allah ta’ala ini;

“Wahai orang2 yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?…..” (QS. At Taubah: 38)

Inilah firman Rabb kita, Rabb yang menguasai diri kita dan alam semesta, yang memerintahkan kita untuk keluar berjihad di jalanNya. Tidakkah kita penuhi panggilanNya ini?

Lebih jauh lagi, Allah berfirman;

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At Taubah: 41)

Kepada siapakah panggilan dalam ayat ini ditujukan? Tentunya kepada manusia yang beriman kepadaNya! Maka, siapapun yang beriman kepadaNya tidak pantas meninggalkan seruan ini, kecuali bagi mereka yang berudzur syar’i.

Ya berangkatlah untuk jihad, entah itu keadaanmu dalam lapang atau sempit, miskin atau kaya, berkendaraan atau jalan kaki, berkeluarga atau masih bujangan, bekerja atau pengangguran dalam rangka memenuhi panggilan Allah ta’ala ini. Bukankah jihad saat ini telah menjadi fardhu ‘ain?

Tidak mampukah kita berkaca pada Abu thalhah, di masa tuanya (+-80 tahun), ketika menanggapai ayat tersebut, beliau bersikeras untuk berjihad. Saat anak-anaknya melarangnya karena beliau termasuk yang diberi udzur , beliau tetap bersikukuh dalam pendiriannya. Dan ternyata Allah karuniakan untuknya ke syahidan di laut. lalu bagaimana dengan kita yang masih muda dan kuat ini? Adakah yang mau mengambil pelajaran?

2. Takut Ancaman Api Neraka

“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan adzab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikanNya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (At taubah: 39)

Ibnu al ‘arabiy berkata; “siksa pedih di dunia adalah berkuasanya musuh atas diri kita dan di akhirat adalah api neraka” (Tafsir al qurthuby 8/142).

Allah telah memberi ancaman bagi mereka-mereka yang meninggalkan jihad tanpa udzur syar’i di dunia dan akhirat. Sungguh, siksa Allah amatlah pedih dan kita tak akan mampu menanggungnya. Lalu mengapa tidak tunaikan kewajiban ini agar Allah ridla kepada kita dan menjauhkan kita dari siksa neraka?

Maka hilangkanlah cinta dunia, yang menyebabkan kita takut akan mati, yang menyebabkan kita enggan untuk berjihad…kemudian penuhilah panggilan mulia dari Rabb kita ini.

“Wahai orang2 beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan padamu…” (Al Anfal: 12)

3. Membela dan Melindungi Kaum muslimin

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a; ‘ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisiMu” (An Nisa: 75)

Ikhwatiy fillah, inilah jihad, jihad yang ditegakkan untuk melawan ketertindasan, melindungi dan membebaskan kaum muslimin dari kedzaliman musuh2 Allah.

Hari ini, berapa jutakah darah kaum muslimin yang ditumpahkan oleh kuffar, thawaghit dan munaafiquun?

Berapa banyak kehormatan muslimah2-muslimah kita yang dinodai oleh musuh-musuh Allah?

Dan berapa banyak ikhwah dan sahabat kita yang masih dalam penawanan dan siksaan?

Tidakkah kita melihat apa yang terjadi di palestina, afghanistan, iraq, chechnya, bosnia, filipin dan sederet tanah-tanah jihad lainnya?

Bukankah mereka saudara kita?

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (al hujurat: 10)

Sungguh tubuh-tubuh kaum muslimin tercabik-cabik menjadi santapan srigala-srigala kafir. Akankah kita tetap diam?

Bukankah kalian membaca sabda junjungan shalallahu ‘alaihi wa sallam;

“Hilangnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (lihat tafsir Ibnu katsir I/534)

“Jika penduduk langit dan bumi berkumpul untuk membunuh seorang muslim, maka Allah akan membalikkan ajah mereka semua ke neraka jahannam” (HR. Ath tThobroni dalam Ash shoghir)

Telah menjadi kespakatan para ulama’ jika satu orang muslimah tertawan dan diperlakukan tidak adil, maka kaum msulimin wajib membelanya dan pada waktu itu jihad menjadi fardhu ‘ain. Lalu bagaimanakah pendapat kalian dengan kondisi kita hari ini??

4. Mengikuti Jejak Shalafus shalih

Inilah para pendahulu kita, para shalaful ummah, yang mana kehidupan mereka tak pernah lepas dari aktivitas jihad fie sabilillah! Mereka tak hanya sibuk dengan kitab dan dakwah saja, tapi lihatlah Rasulullah–Panglima teringgi ummat Islam–beliau berjihad kurang lebih 27 kali selama hidup beliau, yakni di madinah (10 tahun!)

At thobary meriwayatkan bahwa Miqdad bin Al Aswad terlihat di tempat pertukaran uang di Emessa. Ketika itu ia menyandarkan tubuhnya yang amat gemuk ke sebuah meja. Seseorang yang melihatnya berkata padanya, “Allah ta’ala telah mengampunimu (untuk tidak berjihad)”. Mendengar ucapan tadi ia mengatakan, “Surat yang memeruintahkan kita untuk berperang telah turun. Allah ta’ala berfirman, ‘Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat’”.

Az Zuhri mengatakan; “Said bin al Musyayyib berangkat berjihad, padahal ia adalah seseorang yang salah satu matanya buta, maka seseorang berkata padanya; ‘Engkau orang yang cacat”. Namun Sa’id berkata, “Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat, jika aku tidak mampu bertempur paling tidak aku akan menambah jumlah kalian dan dapat ditugaskan untuk menjaga perlengkapan”

Sungguh, kepahlawan mereka dalam membela Islam tiada duanya. Apakah kita tidak ingin seperti mereka?

Juga Umar Mukhtar, di mana komandan Giransiyani berkomentar; “Dia terjun dalam 263 pertempuran menghadapi pasukan saya selama lebih dari 20 bulan. Total pertempuran yang telah dijalankannya berjumlah 1000 kali”

Begitu pula Muhammad Banna salah seorang mujahideen Afghan, beliau menceritakan bahwa pasukannya pernah menghancurkan 400 kendaraan militer Uni Sovyet. Orang-orang Russia memanggilnya “The General”. Dia telah merampas 200 pucuk Kalakov dan 200 pucuk AK47, Klasinkov, ia juga pernah mengahancurkan 150 tank musuh dalam satu kali pertempuran.

Subhanallaah…Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, sungguh kepahlawanan manusia-manusia yang benar-benar mendapatkan anugerah dan pertolongan Allah ta’la sehingga mereka bisa berbuat demikian, memang…mereka Allah ta’ala tolong karena mereka telah menolong agama Allah.

Mereka menjual jiwa yang merupakan harta paling berharga bagi manusia dan Allah ta’ala pun membelinya, sungguh Allah sekali-kali tidak akan menyelisihi janjiNya;

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mukimin diri dan harta mereka dengan balasan jannah untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (At taubah: 111)

Maka, sungguh rugi dan celakalah bila manusia lebih memilih diam diri dari berjihad dan merasa dirinya mendapat udzur padahal ia tidak mendapatkannya.


5. Jihad Adalah perisai kehormatan Ummat yang dengannya mampu menolak serangan orang-orang Kafir

Sungguh, ummat Islam adalah ummat jihadi di mana kehidupannya tidak boleh terlepas dari Jihad. Jihad inilah perisai ummat yang akan menjaga dan melindungi kehormatannya dari tangan-tangan kuffar. Lalu bagaimana jika kita telah meninggalkannya?

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jika kalian berjual beli dengan ‘inah, kalian mengambil ekor2 sapi, kalian ridho dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian. Dia tidak akan mencanbutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian” (dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud)

Sungguh kehinaan yang dialami kaum muslimin sekali-kali tidak akan Allah ta’ala cabut hingga kita berlepas dari kehinaan dengan berjihad!

Dan dengan jihad inilah, Allah akan menolak serangan orang-orang kafir. Renungkanlah firman-firman Allah ini;

“Maka berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani malainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat mukmin (untuk berperang). Mudah2an Allah menolak serangan orang2 kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(nya)” (An Nisa’: 84)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantasaan) tangan-tangamu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka serta melegakan hati orang2 mukmin” (at taubah: 14)

6. Jihad adalah amalan teryinggi dan merupakan wasilah agar bisa memperoleh kesayhidan di jalanNya

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fie sabilillaah” (HR. Ahmad, riwayat dari Mu’adz bin Jabal).

Inilah jihad, ibadah tertinggi kepada Allah, yang tidak ada satu amalan pun yang akan menyamainya.

Dan sungguh ikhwatiy fillah, sungguh kita sangat merindukan syahid, sebagaimana para generasi sebelum kita pun merindukannya.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mereka mendapat rizki” (al ‘imran: 169)

Adakah kematian yang lebih nikmat daripada mati syahid? Bukankah Allah telah menjanjikan pahala bagi mereka yang syahid di jalanNya dengan pahala yang besar?

Marilah kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan At Tirmidzi dari Miqdad bin Ma’d, bahwasannya Rasulullah saw bersabda;

“Allah ta’ala menjamin 7 hak bagi para syuhada’; dia diampuni sejak tetes darah pertama yang keluar dari tubuhnya, ia akan ditunjukkan tempatnya di jannah, ia akan mengenakan pakaian iman, ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari, ia akan terbebaskan dari siksa kubur, ia akan terbebas dari goncangan dahsyat pada hari qiamat nanti, di atas kepalanya akan disematkan mahkota kehormatan di mana satu mutiaranya adalah lebih baik daripada dunia seisinya, dan ia akan mendapatkan hak untuk memberi syafa’at 70 kerabatnya (lihat shohih al jami’ no 5058).

Ikhwatiy fillah, inilah jihad, jika engkau mati, maka engkau syahid biidznillah insyaAllah, jika engkau diusir maka itu adalah siyahah, jika engkau dipenjara maka penjara adalah tempat kalian berkhalwat dengan Allah Ta’ala.

Inilah jihad, dengannya Allah ta’ala menjadikan ummat ini mulia.

Inilah jihad, dengannya Allah ta’ala membuka pintu akhirat, ia mendapatkan kehormatan berkumpul dengan anbiya’, shaddiqiin dan para shalihin…

Inilah jihad…

Adakah dari kalian yang memenuhinya?

Ketahuilah bahwa hanya bercita-cita berjihad saja ini belum cukup, ia hanya menghilangkan sifat nifak dalam diri namun jika ia belum berjihad maka ia tetap berdosa karena jihad adalah kewajiban yang harus kita tunaikan, lalu akankah kita terus diam tanpa i’dad?

Sesungguhnya pembenaran dari cita-cita itu adalah sebuah amalan yang nyata, itu kalau kita benar-benar jujur, jujur pada Allah dan jujur pada diri kita sendiri.

By.
Irhaby88

“IMAM MAHDI” KAUM RAFIDHAH = DAJJAL

Diterjemahkan dari artikel berjudul: The “Mahdi” of The Rafidah: The Dajjal – Majalah Dabiq edisi 11.
Alih Bahasa: Usdul Wagha
===================

Semakin dekatnya hari Kiamat, menjadi penting rasanya untuk merefleksi beberapa hal yang dibuat-buat tentang peristiwa masa depan, karena tidak diragukan lagi hal ini akan memainkan peranan yang kelak akan dilakukan oleh berbagai aliran sesat. Di antara hal ini adalah tentang “al-Mahdi” kaum Rafidah yang akan mengobarkan perang melawan Islam dan kaum Muslim, melawan keadilan dan kebenaran yang dipandu oleh al-Mahdi masa depan yang telah dijelaskan dalam sunnah. Semakin dekat hari Kiamat, semakin erat kaum Rafidah berhubungan dengan orang-orang Yahudi untuk mempersiapkan datangnya pemimpin jahat yang ditunggu-tunggu ini. Setelah membaca catatan orang-orang Rāfidī tentang “al-Mahdi,” menjadi jelas bahwa ia tidak lain adalah Dajjal.

Menurut kelompok Rafidah, “al-Mahdi” adalah putra dari al-Hasan al-Askari yang bernama “Muhammad”. Al-Hasan al-Askari meninggal hampir 1.200 tahun yang lalu. Mereka mengklaim Muhammad “al-Mahdi” lahir sekitar waktu kematian ayahnya. Para ulama Ahlus-Sunnah ragu bahwa al-Hasan al-Askari pernah memiliki anak yang masih hidup, namun menurut klaim Rafidah ia memiliki seorang putra yang disembunyikan oleh ayahnya atau oleh saudaranya dan yang kemudian bersembunyi di dekat Samarra’ dan kelak akan muncul kembali sebelum hari Kiamat setelah hidup di dalam persembunyian lebih dari seribu tahun, atau seperti yang mereka klaim. Di sini, kami akan mengutip beberapa riwayat tentang “al-Mahdi” mereka dari kitab-kitab mereka “yang paling bisa dipercaya”[1].

Seorang Rāfidī an-Nu’mānī meriwayatkan di dalam bukunya “Al-Ghaybah,” “Ketika Imam [‘al-Mahdi’] menyeru, ia akan memohon kepada Allah melalui nama Ibrani-Nya.”

Dalam buku “Al-Kafi”, seorang Rāfidī bernama al-Kulaini memberi judul sebuah bab dengan nama: “Bab: Ketika Imam Muncul Mereka Akan Mengatur dengan Hukum Daud dan Keluarga Daud” Dia kemudian meriwayatkan bahwa Ja’far as-Sadiq mengatakan, “Ketika al-Qa’im [‘al-Mahdi’] dari keluarga Muhammad muncul, ia akan memerintah dengan hukum Daud dan Sulaiman.” dalam riwayat lain, Ja’far as-Shadiq berkata, “Dunia tidak akan berakhir hingga seorang pria dari keturunanku akan mengatur dengan hukum Daud.” Al-Kulaini juga meriwayatkan bahwa Ja’far as-Shadiq ditanya, “Berdasarkan apa engkau akan memerintah?” Dia menjawab, “dengan hukum keluarga Daud.”

Dalam “Al-Irsyad,” seorang Rāfidī bernama at-Tusi meriwayatkan bahwa Ja’far as-Shadiq mengatakan, “Dari Kufah akan muncul bersama al-Qa’im dua puluh tujuh laki-laki pengikut Musa, tujuh Ashabul Kahfi, Joshua, Sulaiman, Abu Dujanah Al-Ansari, al-Miqdad, dan Malik al-Asytar. Mereka akan pendukungnya.”

Seorang Rāfidī bernama al-Majlisi meriwayatkan di dalam “Bihar al-Anwar” bahwa Ja’far as-Shadiq mengatakan, “Al-Qa’im akan berurusan dengan orang-orang Arab sesuai dengan tanda merah.” Dia ditanya, “Apa itu tanda merah?” Dia menjawab dengan menyilangkan jarinya di atas lehernya yang menunjukkan pembunuhan. Al-Majlisi juga meriwayatkan bahwa Ja’far as-Shadiq berkata, “Takutlah kepada orang-orang Arab, karena mereka memiliki masa depan yang buruk. Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka akan mengikuti al-Qa’im ketika ia muncul.”

Seorang Rāfidī bernama an-Nu’mānī juga meriwayatkan dalam “Al-Ghaybah” bahwa Muhammad al-Baqir mengatakan, “Jika orang tahu apa yang akan dilakukan oleh al-Qa’im ketika ia muncul maka kebanyakan dari mereka tentu tidak ingin melihatnya karena sangat banyak orang-orang yang akan dia bunuh. Ia hanya akan mulai pembunuhan dengan membunuh orang Quraisy. Dia tidak akan menerima apa pun dari mereka kecuali perang dan dia tidak akan menawarkan apapun kecuali pedang.” An-Nu’mānī juga meriwayatkan bahwa Ja’far as-Shadiq mengatakan, “Ketika al-Qa’im yang berasal dari keluarga Nabi itu muncul, ia akan membawa lima ratus orang dari Quraisy dan memenggal leher mereka. Dia kemudian akan membawa lima ratus lagi dan memenggal leher mereka. Dia akan melakukannya hingga enam kali [sehingga dia membunuh tiga ribu orang dari Quraisy]. Dia akan membunuh mereka dan pengikut mereka.” Dia juga meriwayatkan bahwa Ja’far as-Sādiq[2] mengatakan,”Ketika al-Qa’im mulai muncul, tidak akan ada antara dia dan Arab serta Quraisy kecuali pedang.”

Maka “al-Mahdi” menurut Rāfidhah adalah dia berbicara dalam bahasa Ibrani, mengatur dengan Taurat, diikuti oleh orang-orang Yahudi, dan membunuh orang-orang Arab terutama Quraisy! Apakah ini gambaran tentang al-Mahdi atau Dajjal? Bandingkan dengan keterangan bahwa tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Asbahān (Isfahan saat ini di Iran) akan mengikuti Dajjal seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas h.

Dan juga apabila kita memperhatikan bahwa Dajjal akan muncul dari daerah Khawarij seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu ‘Umar i. Dan juga apabila dibandingkan bahwa mereka yang menyangkal Qadar adalah termasuk pengikut Dajjal seperti disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Hudzaifah j. Hal ini penting karena dua alasan, yakni karena Rafidah berasal dari sekte Khawarij terbesar. Mereka dan Khawarij lainnya memiliki akar yang sama pada seorang Yahudi bernama ‘Abdullah bin Saba’, yang ikut andil dalam pemberontakan terhadap Khalifah yang sah ‘Utsman j. Untuk alasan ini, beberapa ulama juga menyebut Khawarij sebagai “Saba’iyyah”[3]. Selain itu, Rafidah juga terkenal karena mengucapkan vonis takfir kepada sebagian besar umat termasuk generasi terbaik dari umat – sahabat Nabi h– Menolak otoritas para khalifah, bahkan bekerja sama dengan Tentara Salib dan Tatar melawan para khalifah dan rakyat Muslim mereka. Kaum Rafidah juga memiliki sejarah pembantaian terhadap kaum Muslimin yang menolak keyakinan Rāfidah. Ini terlihat sangat nyata selama kerajaan Safawi (“1501- 1736 M”) dan perang terhadap Ahlus-Sunnah di Persia. Terakhir, Rafidah adalah salah satu sekte dari Qadariyyah, mereka menyangkal bahwa perbuatan baik dan buruk adalah dengan qadar Allah.

Oleh karena itu, kaum murtad Rafidah telah menggabungkan antara syirik akbar (menyembah keluarga Nabi g), penolakan terhadap al-Qur’an dan Sunnah (karena mereka mengklaim bahwa para Sahabat telah memalsukan teks-teks agama), takfir terhadap para sahabat j dan ummahatul-mukminin, dan keyakinan dalam bid’ah sesat Khawarij dan Qadariyyah. Ketika merenungkan tentang ini dan fakta bahwa orang-orang Yahudi menunggu apa yang mereka sebut al-Masih/Messiah – padahal orang-orang Yahudi menyangkal kerasulan Isa n, yang akan kembali sebelum Hari Kiamat – hal ini diperkirakan bahwa kaum Rafidah akan bersekutu secara terang-terangan dengan orang-orang Yahudi di masa depan dalam perang mereka melawan Islam dan kaum Muslimin[4].

Kami berlindung kepada Allah untuk Ahlus-Sunnah dari kejahatan Dajjal.
========================================
Catatan kaki:

[1] Keaslian adalah sesuatu yang mustahil bagi kaum pembohong Rāfidī, karena mereka terkenal sebagai makhluk paling pembohong. Tapi meskipun ada pemalsuan terang-terangan dalam kisah mereka, mereka tetap bertindak sesuai dengan keyakinan yang salah yang mereka pegang, sebagaimana orang-orang Yahudi yang akan mengikuti Dajjal sesuai dengan kepalsuan yang mereka klaim, di mana mereka menganggap bahwa Dajjal adalah al-Masih.[2] Catatan: Muhammad al-Baqir, Ja’far as-Sadiq, dan al-Hasan al-Askari bukanlah orang Rafidah. Mereka berasal dari keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana ‘Alī, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain berasal dari keluarga Nabi. Hanya saja kaum Rafidah membuat kedustaan atas nama ‘Alī dan juga atas keluarga dekat mereka. Kaum Rafidhah membuat kedustaan atas nama keturunan mulianya.[3] Kedekatan Rafidah kepada Khawarij yang lain terlihat pada wala’ antara Iran and Oman. Oman diperintah semata-mata oleh Ibādiyyah dan dihuni kebanyakan oleh mereka. Ibādiyyah secara historis merupakan kelompok sesat Khawarij; tapi selama beberapa abad terakhir mereka telah berubah menjadi sekte murtad Jahmiah. Taghut mereka “sultan” mengatur dengan hukum buatan manusia dan memiliki wala’ kepada Tentara Salib, kepada para thaghut Arab dan non-Arab termasuk Alu Salul dan Rafidah.[4] Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti bagaimana tepatnya hal tersebut akan terjadi, tapi sangat menarik untuk dicatat bahwa 340 rabi Yahudi Amerika baru-baru ini menulis surat yang ditujukan kepada kongres Amerika untuk mendukung rekonsiliasi Amerika-Iran, seperti dilansir “I24 News” (saluran berita Yahudi) pada “18 Agustus 2015″ dalam sebuah artikel berjudul ” Suara Dukungan Ratusan Rabi AS untuk Kesepakatan Nuklir Iran.” Laporan itu menambahkan bahwa Jewish Defense Forces Military Intelligence Directorate’s Research Department memperlihatkan sikapnya terhadap kepemimpinan politik dari negara Yahudi dan “menekankan adanya kemungkinan manfaat yang bisa diambil dari kesepakatan tersebut.”

https://millahibrahim.wordpress.com

MENGGAPAI DAULAH ISLAMIYAH

Izin Reblog.. syukron

idzharulislam

Nasihat untuk para Tandzim Islam di Bumi Alloh SWT.

 nasionalisme

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[QS an-Nahl (16): 125]
DAKWAH ASHOBIYAH
Ashobiyah atau kecintaan kepada golongannya, kaumnya, hizbnya partainya adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya dalam hidup ini, apalagi di tengah-tengah menjamur dan tumbuh suburnya gerakan Islam transnational seperti gerakan dakwah dan politik Ikhwanul Muslimin dengan gerakan tarbiyahnya, Hizbut Tahrir dengan gerakan dakwah dan politik Khilafanya, Salafi dengan gerakan dakwah kembali pada autentik atau keaslian Qur’an dan Sunnahnya menurut pemahaman mereka, Salafi Jihadiyah dengan gerakan dakwah dan jihadnya, Jama’ah Tabligh dengan gerakan dakwah khurujnya dari masjid ke masjid, Majlis Mujahidin atau Jama’ah Anshorut Tauhid dengan gerakan dakwah dan jihadnya dan NII dakwah…

Lihat pos aslinya 672 kata lagi

Menolong Daulah Dari Serangan Pasukan Koalisi Adalah Tali Keimanan yang Paling Kuat

Menolong Daulah Dari Serangan Pasukan Ahzab Kuffar, Munafik, Murtaddin Adalah Tali Keimanan yang Paling Kuat
Maktab al Himmah
Daulah Islamiyyah

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhamad shallallahu alaiihi wa sallam.

Tidak ada yang tersembunyi dari kalian pada hari ini wahai kaum Muslimin yang cerdas, kalian tahu bagaimana sekte-sekte kafir, murtad, dan munafiq dari kalangan Arab maupun non Arab berkoalisi untuk memerangi Daulah Islamiyyah. maka  saksikanlah bagaimana  mereka mengerahkan, mengumpulkan, berkonsultasi, menyiapkan bala tentara merekauntuk menindas umat Islam yang lemah, mereka disetir oleh pasukan pembawa Salib Amerika, sampai akhirnya masih berlanjut peperangan antara  wali-wali Allah dan wali-wali setan, jarak antara mereka hanya antara dua kurung atau bahkan lebih dekat.

Dan meskipun fakta itu telah jelas dan kebenaran sudah terungkap; kamu akan dapati sebagian orang bertanya-tanya, “Kepada siapa aku berpihak? Dan apa pendirianku dalam masalah ini?”

Maka dengarkanlah kalimat ini wahai orang miskin; sungguh perkara ini sangat agung, dan demi Allah sungguh kedua kubu ini bagaikan kubu yang sudah di kabarkan oleh Rosulullah sholallahu alahi wasallam, “Kubu yang ada iman tanpa kekufuran di dalamnya, dan kubu yang ada kekufuran tanpa iman!”

Allah berfirman, “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin,  melainkan orang-orang beriman. barang siapa yang berbuat demikian , niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali jika itu karena siasat(menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka) , dan Allah memperingatkan kamu akan (siksa)Nya. Hanya kepada Allah tempat kembali.”

Dan Rosulullah sholallahu alaihi wassalam, “Tali keimanan yang paling kuat adalah kasih sayang karena Allah dan bermusuhan karena Allah,dan cinta karena Allah dan benci karena Alla.” [Riwayat Thabrani, Hasan]

Dan Rosulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang mencintai karena Allah dan benci karena Allah, mendukung sesuatu karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka dengan itu akan mendapatkan penjagaan dari Allah, dan seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman meskipun dia sering shalat dan puasa sampai dia menjadi seperti itu,” [Jamiul Uluum wal Hukum li Ibni Rajab al Hanbali]

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhamad bin Abdul Wahab berkata dalam penjelasan perkataan Ibnu Abbas:

Membela karena Allah bermakna wajibnya cinta karena Allah, dengan cara membelanya, hal itu menunjukkan bahwa hanya sekedar mencinta tidaklah cukup, akan tetapi di situ harus ada pembelaan dan pengorbanan yang mana itu adalah bukti dari kecintaan itu, yaitu pertolongan, penghormatan dan ketundukan baik secara lahir maupun batin, dan perkataannya.

Sedangkan (memusuhi karena Allah)  adalah penjelasan atas konsekuensi  dari sikap benci karena Allah, dan menampakkan permusuhan itu dengan perbuatan, contohny dengan jihad melawan musuh-musuh Allah, dan berlepas dari kekufuran mereka dan menjauhi mereka secara dzahir maupun batin. Itu semua menunjukan bahwa sekedar membenci dengan hati tidaklah cukup, akan tetapi juga harus melakukan konsekuensinya, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Sungguh telah ada suri tauladan  yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian sampai selama lamanya, hingga kalian beriman kepada Allah saja.” [Taisiir al Azis al Amid Syarh Kitab Tauhid]

Oleh karena itu telah ditetapkan dalam syariat yang suci ini, dan sangat harus diketahui dari segi agama bahwa wala’ dan bara’ merupakan dasar atau landasan agama, tanpanya  tiada Dienul Islam dan juga keimanan.

Kalau begitu, apa pengertian dari al wala’ dan bara’? Dan apa kedudukannya dalam agama?  Lalu apa yang diwajibkan bagi umat Islam untuk merealisasikan al wala’ wal bara’?

Syaikh Hamud bin Uqola’ as Sya’bi rahimahullah ketika beliau ditanya tentang bagaimana sikap dalam permasalahan peperangan antara pasukan Salib dengan Afghanistan, menjawab dengan ringkas dan padat:

Al wala’ dari segi bahasa di ambil dari kata ‘waala yuwaali muwaalah’ dan wala’ berwali kepada seseorang, yaitu mencintainya dan mengikutinya, dan walaayah artinya pertolongan, dan penjagaan, bisa juga dengan arti mendekat padanya. Itu secara bahasa, adapun wala’ maknanya dari segi syar’i yaitu seorang hamba yang berwala’ dengan Allah dan RosulNya dengan cara melaksanakan semua perintahNya  dan menjauhi semua larangannya dan cinta dalam menolong wali-wali Allah yaitu kaum mu’minin.

Adapun bara’ dari segi bahasa diambil dari kata ‘baroya’ yang artinya memotong. Kata baroya qolam artinya memotong pensil, dan maksud daripada ini adalah memutus hubungan dengan kuffar, maka tidak boleh mencintai mereka, menolong mereka, dan tinggal di daerah mereka. Adapun bara’ secara syar’i adalah menjauh dan memusuhi, di katakan dia berlepas diri dari kuffar jika dia telah memutus hubungan antara dia dan dan mereka dan tidak menolongnya, tidak  mencintainya, dan tidak memintakan untuk mereka pertolongan .

Dan kedudukan al wala’ dan bara’ di dalam Islam adalah sesuatu yang sangat urgen dan agung, wala dan bara’ merupakan dasar dan pondasi keimanan.

Maka tidak sah iman seseorang tanpa keduanya, oleh karena itu wajib atas seorang  muslim berwali hanya karena Allah, cinta karena Allah, benci karena Allah dan memusuhi karena Allah begitu seterusnya, jika dia sudah mampu melakukan hal itu maka secara otomatis dia adalah wali Allah, adapun orang yang berwala’ kepada kaum kuffar dan menjadikan mereka sebagai sahabat dan teman-teman mereka,maka Allah memberi peringatan pada mereka.

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setiamu, mereka satu sama lain saling melindungi, barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya kamu termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”  [Al Maidah 51]

Di dalam al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tidak diperbolehkannya menjadikan orang kafir sebagai wali atau teman sejati.

Allah berfirman, “Wahai oang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang.” [Al Mumtahanah 1]

Maka bara’ (berlepas diri) merupakan dasar pijakan sehingga dengan bara’ tersebut Aqidah Islamiyyah bisa tegak dan kokoh yaitu dengan cara menjauhi orang kafir, memusuhinya dan kemudian memutus hubungan dengannya , maka tidaklah sah iman seseorang sampai dia memusuhi dan benci dengan kuffar, kaum murtaddin, dan orang munafiq, dan berlepas diri dari mereka meskipun mereka adalah kerabatnya atau sanak familinya.

Allah subhanahu wa taala berfirman, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya, mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Lalu dimasukkannya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, Allah ridho terhadap mereka, dan mereka merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntug.” [Al Mujadilah 22]

Ayat tersebut menerangkan baahwa iman tidak bisa terealisasikan kecuali bagi siapa yang menjauh dari orang kafir yang menentang Allah dan RasulNya, dan juga berlepas diri dari mereka, dan memusuhi mereka walaupun mereka adalah kerabat yang paling dekat dengan kita, Allah telah memuji kekasihnya ibrahim alaihi sallam ketika beliau berlepas diri dari ayahnya, kaumnya dan sesembahan mereka seraya berkata dalam firman Allah, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri  dari dari apa yang kamu sembah’.[Az Zukhruf 26]

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita supaya meneladani kekasihnya Ibrahim alaihi sallam, dari segi tauhidnya yang murni dan berlepas dirinya dari kaum musyrikin, Allah berfirman, “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai beriman kepada Allah saja,’ Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ Ibrahim berkata, ‘Yaa Tuhan kami,hanya kepada engkau kami bertawakal dan hanya kepada engkau kami bertaubat dan hanya kepada engkaulah kami kembali.’ “ [Al Mumtahanah 4]

Adapun membantu orang-orang kafir dalam memerangi umat Islam, dan saling membantu dengan mereka, maka hal tersebut adalah sesuatu kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, sebagaimana yang tercantum dalam perkataan para ulama baik ulama salaf atau khalaf, Imam Al Mujaddid Ibnu Wahab berkata:

“Pembatal keislaman yang kedelapan adalah membantu kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memerangi kaum muslimin,”

Dan berkata juga ahli hadist aalim Ahmad Syakir semoga Allah merahmatinya dalam penjelasan hukum membunuh kuffar dan memerangi mereka, di situ diterangkan perangnya Inggris terhadap Mesir, “ Diwajibkan bagi setiap muslim di belahan bumi manapun untuk memerangi mereka di mana saja mereka dapati baik itu warga sipil maupun militer..”

Adapun saling membantu dengan Inggris apapun bentuknya itu, sedikit maupun banyak maka itu adalaah kemurtadan dan kekufuran yang nyata, tidak diterima maafnya, tidak ada manfaatnya sama sekali ta’wil mereka, dan ashobiya yang bodoh tidak akan menyelamatkanya dari hukuman  dan tidak juga politik yang cacat, ataupun toleransi yang munafiq, entah yang melakukan itu perorangan, atau pemerintahan, bahkan pembesar-pembesar suatu kaum pun, semua sama dalam kemurtaddan tidak ada bedanya.

Berdasarkan hal ini, maka siapa saja yang membantu negara kafir dalam memerangi kaum muslimin seperti negara Amerika dan kawan-kawannya yang sama kekafirannya, maka dia telah menjadi kafir murtad (keluar) dari Islam, apapun itu bentuk bantuannya, karena ini merupakan perang ideologi yang masih di dengung-dengungkan oleh anjing Romawi dan temannya dalam kekafiran (kepala kementrian Inggris) yang mana keduanya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris yang mereka namakan sebagai perang Salib seperti halnya pendahulu-pendahulu mereka dari kelompok Salibis yang melawan Islam dan kaum muslimin menurut sejarah yang lampau.

Dan penjahat Bush telah berterus terang tanpa basa basi saat dia mengatakan, “Kita akan mengobarkan perang salib”. Entah dia mengatakan itu secara sadar atau tidak tetapi inilah yang di yakini dan dipercaya oleh dia dan semisalnya dari penguasa-penguasa kafir.

Permusuhan dan kedengkian atas Islam dan muslimin dari pihak para Salibis dan Yahudi ini, sudah tidak mengherankan lagi, karena kekafiran meskipun banyak macamnya, tapi pada hakekatnya mereka adalah satu dalam memusuhi umat Islam dan dengki atasnya, akan tetapi yang mengherankan dan super heran adalah pada sebagian pemerintah yang mengaku dirinya Islam dan juga sebagian kaum muslimin, dan mereka mempersembahkan pertolongan dan memberikan kaum kuffar banyak fasilitas, baik dari daratan maupun udara dan juga basis mereka. Supaya orang-orang kafir memakainya untuk memerangi kaum muslimin.

Dengan realita yang seperti ini maka kami menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk bersegera menolong saudara-saudara mereka para Mujahidin dengan segenap kemampuan mereka  dalam bentuk jiwa, harta, dan doa. Dan juga kami wasiatkan kepada ikhwah para mujahid agar selalu sabar dan istiqomah dan tidak takut mati dalam melawan musuh-musuh Allah, dan kita semua berharap kepada Allah supaya rumah-rumah kaum muslimin menjadi kuburan bagi mereka penyembah Salib dan kaum murtaddin sebagaimana telah menjadi kuburan bagi para pendahulu mereka dari golongan para thaghut yang sombong lagi congkak.

Dan juga kami ingatkan ikhwah sekalian yang berperang di jalan Allah dengan keadaan kaum muslimin pada saat perang Ahzab, ketika kekuatan musuh mengeroyok kaum muslimin, dan kuffar bersekutu dalam memerangi kota Madinah , dan ingin membasmi kaum muslimin sampai ke akar-akarnya.

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kekuatanNya memecah belah kekuatan mereka, menggoncangkan mereka dan menolong Nabinya dan siapa-siapa yang bersama beliau.

Dan pada hari ini sejarah terulang dengan sendirinya, agama-agama kafir dan para penghianat kembali untuk memerangi kaum muslimin lagi,

Dan terkhusus bagi orang-orang yang tinggal di Daulah Islam hendaknya mereka menolong Daulah Islamnya di Iraq, Syam dan di semua tempat dengan segenap kemampuannya baik dalam bentuk harta, jiwa atau ajakan, dan hendaklah membela kehormatan para mujahidin, menolong mereka dan bergembira dengan kemenangan mereka dan sedih atas kekalahan mereka,dan mengangkat tekad mereka, demi Allah yang tiada tuhan selainnya itu merupakan tali keimanan yang paling kuat, sebagai mana jua sebaliknya.

Bergembira atas kekalahan muslimin dan senang dengan kemenangan orang kafir di bumi ini itu merupakan kemurtadan yang nyata dan megeluarkanya dari agama Islam.

Wahai saudara ku kaum muslimin, Daulah islam yang dibangun dengan darah dan jasad anak-anak kalian, saudara kalian para mujahidin dan di hadist diriwayatkan dengan darah para syuhada , dan membayar harganya para tawanan baik laki-laki atau perempuan, maka dia tumbuh dan menjulang tinggi sampai terbitnya cahaya yang tinggi. Dan membuat musuh-musuh marah, dan sampai menjadi  kelezatan bagi orang-orang yang lemah dari kaum Muhajirin.

Daulah ini bukan cuma daulah kami saja, namun bahkan dia adalah daulah kalian juga , dan bukan cuma kami yang bertanggung jawab untuk membelanya! Tetapi kalian juga dituntut akan hal itu.

Jika Allah menakdirkan Khilafah ini runtuh -tanpa itu tubuh kita terpotong-potong-, demi Allah, demi Allah, kaum rafidha, pasukan salibis, liberalis akan meracuni kalian dengan seburuk adzab, dan mereka akan menyembelih  anak-anak kalian, dan tak membiarkan hidup wanita -wanita kalian, mereka akan merampok harta kalian, menghancurkan masjid-masjid kalian dan akan membakar mushaf-mushaf kalian.

Dan yang terakhir tidak luput dari kami untuk memberi kabar gembira kepada umat Islam bahwa anak-anak mereka para Mujahidin di Daulah Islamiyyah telah menyerahkan semua urusannya dan mereka berbaiat untuk mati , dan mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan yang paling sulit, dan jawaban itu adalah yang kalian lihat dengan izin Allah bukan yang kalian dengar, dan kemuliaan itu milik Allah, RasulNya dan juga kaum mukminin.

Alih Bahasa:

Tim Azzam Media

Kenapa Kita Diharuskan Untuk Berjihad?

Daulah Islamiyyah

Departemen Wakaf, Dakwah Dan Urusan Masjid
Wilayah Al Barakah, Kantor Dakwah Syaddadi

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah yang diutus dengan pedang menjelang kiamat sebagai rahmat bagi sekalian alam. Amma Ba’du.

Telah muncul di hadapan kita hari-hari ini orang yang berkoar-koar di dalam layar televisi dan radio sembari memotong beberapa patah kata dari kitab-kitab induk, mengumpulkan topik-topik yang berbeda, membedakan topik-topik yang serupa, dan berpaling dari ungkapan-ungkapan yang muhkam (jelas/baku maknanya) demi memuaskan para pengikut hawa nafsu, dan dia melontarkan berbagai syubhat kepada kaum muslimin, serta mendatangkan kesesatan-kesesatan besar, seperti pengguguran ayat-ayat yang sangat jelas tentang puncak menara segala ibadah (yakni jihad), demi melindungi darah tuan-tuannya dari kalangan para penyembah salib dan kaum murtaddin yang loyal kepada mereka, serta dalam rangka pengguguran gratis bagi nyawa setiap muslim dan mujahid.

Dan bencana besarnya adalah bahwa mereka itu dianggap sebagai para ulama!! Bahkan sebagian mereka itu menyandang gelar-gelar akademi dalam bidang ilmu syari’at!! Alangkah seringnya gelar-gelar ini berbuat aniaya terhadap umat ini akibat tindakan orang-orang yang mengumpulkan ilmu namun mereka tidak menjaganya, dan mereka menimba ilmu syari’at dengan hati syaitan dan niat orang-orang munafiq.

“Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Sungguh betapa buruknya apa yang mereka kerjakan.” (At Taubah 9)

Engkau heran sekali terhadap orang yang menghalalkan darah kaum muslimin dan mengharamkan darah orang-orang kafir!! Di mana bila ada orang kafir salibis atau orang murtad pendengki dibunuh, maka dia bangkit mencela tindakan itu, padahal pada waktu yang bersamaan dia itu tidak mengusik apapun dan tidak berbicara sepatah katapun tentang hukum membunuh satu bangsa muslim secara keseluruhan. Ya sesungguhnya mereka itu ulama pemerintah (Salafiy Klaimer anak-cucu Bul’am Ibnu Ba’ura!) dan begitu juga Ahbar (ulama) Al Hizb Al La Islamiy (para pemakai surban busuk dan para pemilik fatwa-fatwa bayaran, yang mana mereka itu tidak singgah di bumi jihad kecuali mereka hanya merusaknya!), mereka telah meninggalkan syari’at yang muhkam dan mereka telah menukar cahaya langit dengan kegelapan-kegelapan bumi berupa sampah-sampah pendapat, dan pahatan pemikiran dan hawa nafsu, di mana mereka itu berdamai dengan penjajah salibis dan melegalkan agama demokrasi serta menyematkan padanya gaun keabsahan, sehingga tepatlah bagi mereka itu firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.” (Al A’raf 175)

Dan tatkala syubhat-syubhat ini telah merebak dan apinya telah melahap para pengikut syahwat, maka wajib atas kaum muslimin untuk kembali kepada Kitab Rabb mereka dan Sunnah Nabi mereka sesuai dengan pemahaman Salaf mereka supaya mengetahui hukum Pencipta mereka tentang apa yang menimpa mereka berupa musibah-musibah yang besar dan bencana-bencana yang sangat dasyat itu.

Maka kami katakan kepada kaum muslimin di Negeri Dua Aliran Sungai (Iraq):

Sesungguhnya penegakkan syari’at Allah Ta’ala dan pengembalian hak-hak yang dirampas serta pengusiran penjajah salibis dan kaki tangannya itu tidak bisa dengan cara melebur ke dalam dinas keamanan pemerintah boneka atau dengan ikut serta di dalam pemilu demokrasi yang menjadikan kedaulatan hukum pada tangan rakyat bukan pada Allah Ta’ala, dan tidak juga dengan cara mengadakan konfrensi-konfrensi dan demontrasi-demontrasi damai, tapi hal-hal itu hanya bisa diraih dengan jalan jihad dan perang, dan hal itu telah ditunjukkan oleh nash-nash syar’iy dan ijma ulama Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (At Taubah 41)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memberitahukan kepada kita bahwa meninggalkan jihad dan cenderung kepada dunia itu adalah sebab kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kembali kepada jihad adalah kembali kepada dien dan ‘izzah (kejayaan), di mana beliau berkata:

“Bila kalian berjual beli dengan cara ‘inah (riba), dan kalian mengikuti ekor-ekor kerbau, dan kalian merasa puas dengan pertanian, serta kalian meninggalkan jihad, maka Allah pasti kuasakan atas diri kalian kehinaan yang tidak akan Dia angkat sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Al Hakim)

Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Tidaklah satu kaum-pun meninggalkan jihad melainkan Allah pasti menimpakkan adzab secara merata kepada mereka.”(Diriwayatkan oleh Ath Thabaraniy – Shahih)

Oleh sebab itu, wahai para pemuda Islam, kalian adalah para pendekar Hiththin, Yarmuk dan Qadisiyyah. Jalan kalian adalah jalan kemuliaan dan panji kejayaan adalah milik kalian, pegang-teguhlah Manhaj Panglima Mujahidin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau berkata:

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, ingin sekali aku berperang di jalan Allah terus aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi dan kemudian aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi dan kemudian aku terbunuh lagi.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Ibnu ‘Abidin yang mana beliau adalah tergolong ahli fiqh senior di Madzhab Hanafiy (rahimahullah) berkata seraya menjelaskan hukum syari’at prihal melawan musuh yang menjajah lagi menyerang:

“Dan fardlu ‘ain, bila musuh menyerang salah satu tsughur Islam, maka ia menjadi fardlu ‘ain atas orang yang dekat darinya, dan adapun orang yang di belakang mereka yang jauh dari musuh maka ia adalah fardlu kifayah bila mereka tidak dibutuhkan, namun bila mereka dibutuhkan, umpamanya orang-orang yang dekat dengan musuh tidak mampu melawan musuh atau mereka itu sebenarnya mampu namun mereka itu malas-malasan dan tidak berjihad, maka hal itu menjadi fardlu ‘ain atas orang-orang yang dekat dengan mereka seperti fardlu ‘ain-nya shalat dan shaum, mereka tidak boleh meninggalkannya, kemudian yang berikutnya dan kemudian yang berikutnya sampai menjadi fardlu atas semua orang islam di timur dan barat, sesuai dengan urutan ini.” (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 3/238)

Dan terakhir, kami katakan kepada kaum muslimin: Jauhilah manhaj kepengecutan dan kehinaan yang panjinya dihusung oleh Al Hizb Al Istislamiy dan oleh sebagian kelompok-kelompok yang pernah melakukan perlawanan atau mengklaim perlawanan yang mulia!!! Maka apa yang mereka raih dari akibat manhaj mereka yang busuk itu selain kekalahan dan tambahan kenistaan di hadapan Salibis Penjajah serta upaya tulus pelayanan kepadanya lewat jalan keikutsertaan mereka di dalam mendirikan batalion-batalion kemurtaddan dengan nama Shahawat, semua itu dalam rangka meraih kepentingan-kepentingan pribadi dan jabatan-jabatan dunia.

“Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy Syu’ara 227)

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapinkebanyakan manusia tidak mengerti.” (Yusuf 21)

 

(1). Lihat (Kitab Ad Difa’ ‘An Aradli Al Muslimin Ahammu Furudlil A’yan) milik Asy Syaikh Asy Syahid Abdullah ‘Azam rahimahullah.

____________________

Alih Bahasa: Syaikh Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

Editor: Tim Azzam Media

Kejayaan Umat Dalam Berhijrah

Dr. Tajuddin Pogo, Lc.MH

Muharram awal bulan hijriyah, adalah bulan kemenangan dan kejayaan. Di bulan ini Allah Swt. memenangkan Musa beserta Bani Israil atas Fir’aun dan bala tentaranya. Sebentar lagi umat muslim memasuki tahun baru Islam 1435 H.  Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Detik dan menit terus berputar. Hari berganti hari menggenapkan hitungan minggu, bulan dan tahun.

Pergantian tahun Hijriyah sangat penting dalam Islam. Kata kunci dari hijrah adalah perubahan. Perubahan menuju lebih baik, dalam segala hal. Perubahan itu dilakukan semata-mata karena kebaikan, manfaat dan mencari ridha Allah swt. Memasuki tahun baru Hijriyah ini, mari kita awali dengan meluruskan dan mengikhlaskan niat. Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Substansi Kewajiban Hijrah Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Hijrah Syariat Abadi

Hijrah secara bahasa berarti “tarku” (meninggalkan). “Hijrah ila syai” berarti “intiqal ilaihi ‘an ghairi” (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Dalam makna ini, hijrah memiliki dua bentuk. Hijrah Makaniyah dan Hijrah Ma’nawiyah. Hijrah makaniyah adalah berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain. Kebanyakan ayat-ayat tentang hijrah bermakna Makaniyah. “Dan siapa yang berhijrah di jalan Allah (untuk membela dan menegakkan Islam), niscaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak dan rezki yang makmur. Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa:100). Sedangkan hijrah secara ma’nawiyahditegaskan dalam firman Allah swt. “Dan berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Al-Ankabut:26. “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”Al-Muddatsir:5

Perintah hijrah adalah perintah yang sangat penting dan abadi.  Rasulullah saw. menjanjikan pahala yang besar bagi yang berhijrah. Semangat hijrah adalah semangat mentaati pemimpin dan semangat melaksanakan kebijakan dakwah untuk kejayaan dan kemenangan Islam dan umatnya. Karena itulah pengertian hijrah maknawi harus senantiasa ada dalam diri setiap muslim. Adapun pengertian hijrah secara maknawi adalah:

  1. Meninggalkan kejahiliyahan menuju kepada nilai Islam.
  2. Meninggalkan kekafiran menuju iman kepada Allah.
  3. Meninggalkan kesyirikan menuju tauhid, mengesakan Allah.
  4. Meninggalkan kebatilan menuju hak, kebenaran Islam.
  5. Meninggalkan perbuatan maksiat menuju perbuatan ketaatan kepada Allah.
  6. Meninggalkan sesuatu yang haram menuju sesuatu yang halal.

Meski demikian, dalam beberapa keadaan kondisi orang Islam berada dalam lingkungan  yang mengharuskannya melakukan hijrah fisik. Konsideran dari hijrah fisik tersebut adalah:

  1. Hijrah untuk keamanan bagi orang-orang yang lemah seperti hijrahnya kaum muslimin ke Habasyah.
  2. Hijrah untuk mengungsi dan bersifat sementara.
  3. Hijrah karena panggilan iman bagi seluruh kaum muslimin ke kota Madinah. Hijrah ke madinah adalah bentuk mobilitas umum untuk mengokohkan basis sosial dan basis geografis. Kebijakan hijrah seperti ini pada masa Rasulullah saw selain panggilan keimanan, ini merupakan kebijakan politik Islam untuk menghadapi tantangan musuh dari luar Madinah.

Faktor Kesuksesan Hijrah

Nabi sebagai Pemimpin, sahabat sebagai generasi emas dan al-Qur’an sebagai pedoman menjadi faktor yang memberikan garansi kesuksesan hijrah. Nabi Muhammad Saw. yang memiliki sifat; amanah, jujur, tanggung jawab, simpatik, bijaksana dan segala sifat dan atribut lain yang menjadikan beliau sebagai figur pemimpin ideal, berhasil meyakinkan setiap mukmin untuk patuh dan taat sepenuhnya kepada beliau. Nabi Saw. yang juga memiliki fisik yang indah, kepribadian sempurna, akhlaq mulia, dan watak agung dan tinggi, sukses dengan gemilang menarik hati setiap orang yang mengenalnya bahkan termasuk juga musuh-musuh beliau.

Maka langkah kongkrit dan rasional yang harus dilakukan oleh umat saat ini bila benar-benar ingin bangkit dan bersatu padu adalah memilih pemimpin yang benar-benar amanah,  berwibawa dan dipatuhi serta bertanggungjawab dalam setiap level dari tingkat yang paling tinggi sampai tingkat paling rendah. Ciri-ciri pemimpin tersebut antara lain; jujur, adil, sederhana, berwibawa, pandai memimpin, bijaksana, cerdas dan tanggap, terbuka dan responsip, peduli, sabar, tekun, teliti, dan sifat-sifat mulia lainnya. Disamping memiliki sifat-sifat ini dia juga harus terbebas dari segala sifat yang merusak dan mengotori kepemimpinannya.

Sahabat adalah generasi yang benar-benar mengorbankan diri mereka buat Islam. Keyakinan dan kecintaan kepada Islam melebihi kecintaan mereka terhadap diri mereka sendiri. Maka segala siksaan dan penderitaan sepanjang masih berkenaan dengan jiwa raga mereka sendiri, tidaklah menjadi problem yang besar. Oleh karena mereka sangat yakin bahwa Islam adalah tidak ternilai dengan apa pun yang mereka miliki. Maka pengorbanan terbaik yang dapat mereka persembahkan adalah segala jiwa raga dan kemampuan mereka.

Umat Islam membutuhkan generasi-generasi seperti itu untuk bangkit kembali meraih kejayaannya. Hal itu merupakan harga mati.

Pada masa-masa kritis, para sahabat menerima paket turunnya ayat Al-Qur’an yang menghibur dan menghidupkan kembali semangat mereka yang mulai kendur atau sedikit melemah karena banyaknya ujian dan rintangan. Surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an turun untuk memberikan hujjah dan penjelasan tentang prinsip-prinsip Islam yang menjadi spirit dan materi dakwah dengan berbagai metode yang menarik. Al-Qur’an datang untuk melapangkan dada yang sedang terhimpit atau tertekan oleh serangan-serangan teror musuh baik dalam bentuk manuver-manuver intelektual yang menyebarkan racun-racun kebimbangan atau pun teror mental dan ancaman yang menyesakkan dada. Al-Qur’an berisi jaminan dan janji akan kemenangan dan keberhasilan. Pokoknya Al-Qur’an mengandung segala hal yang dibutuhkan oleh seorang mukmin ingin bangkit dan meraih kejayaan.

Umat Islam saat ini harus lebih mempertebal keyakinan dan keimanan bahwa Al-Qur’an adalah pelita dan penerang bagi segala macam tantangan abad ini.

Pelajaran Hijrah

Adabanyak pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa hijrah seperti yang dapat dikutip berikut ini;

  1. Sesungguhnya keberhasilan dan kemenangan itu diraih dengan usaha dan strategi yang tepat dan diilhami oleh keimanan. Rasulullah Saw. berhijrah ke Madinah dengan petunjuk dan inayah (perhatian, pengawasan dan penjagaan) Allah Swt. Beliau tidak diselamatkan dari kejaran dan tangkapan musuh, dengan mukjizat dan kejadian yang luar biasa. Allah Swt. tidak mengirim Jibril AS dan kendaraan Buroq untuk mengangkut beliau ke Madinah sebagaimana dalam perjalanan malam peristiwa Isra’ dan Mikraj. Tetapi Allah Swt. menuntun beliau untuk berusaha dan mengatur strategi dalam berjihad dan agar umat Islam mengambil pelajaran darinya.
  2. urgensi merubah dan memperbaharui strategi, pusat komando dan jaringan dalam perjuangan Islam. Kebuntuan ekspansi dakwah di Mekkah, mengilhami Rasulullah Saw. untuk mengalihkan pusat komando dakwah dari Mekkah ke Madinah.
  3. Tiada kejayaan dan kemenangan tanpa pengorbanan, dan tak akan ada pengorbanan bila tidak dilandasi oleh cinta yang tulus kepada Allah Swt., Rasulullah Saw. dan perjuangan Islam.

Substansi Kewajiban Hijrah Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Oleh: H. Dedih Surana, Drs., M.Ag.

Pengantar

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dri dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan.

Umat Islam wajib melakukan hijrah apabila diri an keluarganya terancam dalam mempertahankan akidah dan syari’ah Islam. Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: Qs. Al-Baqarah 2:218).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
 “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni;mat) yang mulia. (Qs. Al-An’fal, 8:74)
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Qs. At-Taubah, 9:20)
Pada ayat-ayat di atas, terdapat esensi kandungan: 
1. Bahwa hijrah harus dilakuakn atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengarah rahamt dan keridhaan Allah.
2. Bahwa  orang-oerang  beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, memperoleh  keebrkahan rizki (ni’mat) yang mulai, dan kemenangan di sisi Allah.
3. Bahwa hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita  miliki, termasuk  harta benda, bahkan jiwa.
4. Ketiga   ayat  tersebut  menyebut  tiga  prinsip  hidup, yaitu  iman,  hijrah dan jihad. Iman bermakna keyakinan, hijtah bermakna perubahan dan jihad bermakna perjuangan dalam menegakkan risalah Allah.

Makna Hijrah

Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya ahrus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tepat yang tidak kondisuf untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan ahun Hijriyah.

Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khlifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai  taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah aw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah.

Secara garis besar hijrah kita bedakan menajdi dua macam yaitu:

1. Hijrah Makaniyah : Yaitu meinggalkan suatu tempat. Bebebrapa jenis hijrah maknawiyah, yaitu:

a. Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Habasyiyah.
b. Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah.
c. Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal
yang diharamkan.
d. Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menhindari penyakit menuju negeri yang aman.
e. Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda.
f. Hijrah dari suatu tempat karena menghindari tekanan fisik
Seperti hijrahnya Ibrahim as dan Musa as, ketika Beliau khawatir akan gangguan kaumnya. 
Seperti yang tecantum dalam al-Qur’an:
Berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan).
  Tuhanku, Sesungguhnya Dialah yang Maha erkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al-Ankabuit, 29:26).

Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatri, dia berdo’a “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu (Qs. Al-Qashah, 2:21).

2. Hijrah Maknawiyah

Secara  maknaiyah hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

a. Hijrah I’tiqadiyah

Yaitu hijrah keyakinan. Iman bersifat pluktuatif, kadang menguat menuju puncak keyakinan mu’min sejati, kadang pula melemah mendekati kekufuran Iman pula kadang hadir dengan kemurniannya, tetapi kadang pula  bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan. Kita harus segera melakuakn hijrah keyakinan bila berada di tepi jurang kekufuran dan kemusyrikan keyakinan. Dalam konteks psikologi biasa disebut dengan konversi keyakinan agama. Sebagai contoh Umar Ibnu Khattab dalam Islam dan Santo Paulus dalam Kristen.

b. Hijrah Fikriyah

Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara oline kitya akses.

Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia gendeang perang telah dipukul dalam medan yang namanya “Ghoswul Fikr” (baca: Perang pemikiran). Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana dari senjata-senjata perengut nyawa. Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, dan sosialisasi bahkan momunisasi telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terditeksi oleh kacamata pemikiran Islam. Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Mari kita kembali mengkaji pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, melalui para sahabat tabi’in, tabi’it, tabi’in dan para generasi pengikut shalaf.

“Rasulullah Saw bersabda: Umatku niscaya akan mengikuti sunan (budaya, pemikiran, tradisi, gaya hidup) orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta-demi sehasta, sehingga mereka masuk ke lubang biawak pasti umatku mengikuti mereka. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah apaakh mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani ? Rasulullah menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka.

c. Hijrah Syu’uriyyah

Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semau yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kuarng Islami Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola semua pihak luput dari pengaruh nilai-nilai diluar Islam. Kalau kita perhatikan, hiniran dan musik seorang muslim takjauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hutra-hura dan senang-senang belaka.

Mode pakain juga tak kalah pentingnya untuk kita hiraukan Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian ? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Konon, umat Islam dimanjakan oleh budaya barat dengan 3 f, food, fan, fashan.

d. Hijrah Sulukiyyah

Suluk berarti tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juag akhlaq. Dalam perjalanannya ahklaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulai (akhlaqul karimah) menuju kepribadian tercela akhlaqul sayyi’ah). Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak moral dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, penghinan dan penganiyaan seolah-olah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi,, prostitusi dan manipulasi hampir bisa ditemui di mana-mana. Dalam moment hijrah ini, sangat tepat jika kita mengkoreksi akhlaq dan kepribadian kita untuk kemudian menghijrahkan akhlaq yang mulia.

Refleksi 

Dengan telah berakhirnya tahun 1431 H dan tibanya tahun 1433 H, serta sebentar lagi akan segera pergantian tahun masehi dari 2011, suatu hal yang pasti bahwa usia kita bertambah dan jatah usia kita semakin berkurang. Sudah selayaknya kita menghisab drii sebelum dihisab oleh Allah. Rasulullah Saw bersabda:

“Hisablah (lakukan perhitungan atas) dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lakukanlah kalkulasi amal baik dan amal burk sebelum Allah memberikan kalkulasi amal atas dirimu.

Apakah kehidupan kita banyak diisi dengan beribadah atau bermaksiat ? Apakah kita banyak mematuhi ajaran Allah ataukah banyak melanggar  atauran Allah ? Apakah kita ini termasuk orang yang menunaikan shalat fardlu atau malah lalai dalam menunaikan shalat fardlu ? Apakah diri kita ini termasuk golongan orang – orang ynag celaka mendapat siksa neraka ? Rasulullah bersabda :

Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir mengatakan:

“Tanda-tanda orang yang akan mendapatkan kecelakaan di akherat kelak ada empat perkara:
1. Terlalu mudah melupakan dosa yang diperbuatnya, padahal dosa itu tercatat di sisi Allah. Orang yang mudah melupakan dosa ia akan malas bertobat dan mudah mengerjakan dosa kembali.
2. Selalu mengingat (dan membanggakan) atas jasanya dan amal shalihnya, padahal ia sendiri tidak yakin apakah amal tersebut diterima Allah atau tidak. Orang selalu mengingat jasanya yag sudah lewat ia akan takabur dan malas untuk berbuat kebajikan kembali di ahri-hari berikutnya.
3. Selalu melihat ke atas dalam urusan dunia. Artinya ia mengagumi sukses yang dialami orang lain dan selalu berkeinginan untuk mengejar sukses orang tersebut. Sehingga hidupnya selalu merasa kekurangan.
4. Selalu melihat ke bawah dalam urusan agama. Akibat ia akan merasa puas dengan amalnya selama ini, sebab ia hanya membandingkan amalnya dengan amal orang lain di bawah dia.

Belajar Ilmu Tajwid ( Membaca AlQuran dengan Benar )

Belajar Ilmu Tajwid ( Membaca AlQuran dengan Benar ) ilmutajwid.com

Dalam sebuah riwayat dikatakan ;

“Orang yang pandai dalam membaca Al-Quran itu akan bersama dengan para malaikat yang mulia, dan barangsiapa yang membaca Al-Quran dengan tersendat-sendat (terbata-bata) dan merasa keberatan maka baginya dua pahala.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Tujuan dari belajar tajwid adalah supaya bacaan huruf, mahkraj, panjang – pendek nya benar.

Referensi Situs

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat 🙂
Sumber yusupsaepudin.wordpress.com

Apa Perbedaan JIN, Iblis Dan Setan?

Apa Perbedaan  JIN, Iblis Dan Setan? youtube.com

Jin, Setan, dan Iblis

Pertanyaan:
Apa perbedaan jin dan iblis atau setan?

Dari: Riski

Jawaban:

Jin

Jin adalah salah satu jenis makhluk AllahSubhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat fisik tertentu, berbeda dengan jenis manusia atau malaikat.

Jin diciptakan dari bahan dasar api, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (14) وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ(15)

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 14 – 15)

Jin memiliki kesamaan dengan manusia dalam dua hal:

a. Jin memiliki akal dan nafsu, sebagaimana manusia juga memiliki akal dan nafsu.

b. Jin mendapatkan beban perintah dan larangan syariat, sebagaimana mausia juga mendapatkan beban perintah dan larangan syariat.

Oleh karena itu, ada jin yang muslim dan ada jin yang kafir. Ada jin yang baik dan ada jin yang jahat. Ada jin yang pintar masalah agama dan ada jin yang bodoh. Bahkan ada jin Ahlussunnah dan ada jin pengikut kelompok sesat, dst.

Sedangkan perbedaan jin dengan mansuia yang paling mendasar adalah dari asal penciptaan dan kemampuan bisa kelihatan dan tidak.

Makhluk ini dinamakan jin, karena memiliki sifat ijtinan (Arab: اجتنان), yang artinya tersembunyi dan tidak kelihatan. Manusia tidak bisa melihat jin dan jin bisa melihat manusia. Allah berfirman,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu di suatu keadaan yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

Setan

Untuk memahami setan, satu prinsip yang harus Anda pegang: Jin itu makhluk dan setan itu sifat. Karena setan itu sifat, maka dia melekat pada makhluk dan bukan berdiri sendiri.

Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya.

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar mengatakan,

الشيطان في لغة العرب يطلق على كل عاد متمرد

“Setan dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut setiap makhluk yang menentang dan membangkang.” (Alamul Jinni was Syayathin, Hal. 16).

Dinamakan setan, dari kata; syutun (Arab: شطون) yang artinya jauh. Karena setan dijauhkan dari rahmat Allah. (Al-Mu’jam Al-Wasith, kata: الشيطان)

Kembali pada keterangan sebelumnya, karena setan itu sifat maka kata ini bisa melekat pada diri manusia dan jin. Sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ada setan dari golongan jin dan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, setelah menjelaskan sifat-sifat setan,

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

(setan yang membisikkan itu) dari golongan jin dan mausia.” (QS. An-Nas: 6).

Iblis

Siapakah iblis? Iblis adalah nama salah satu jin yang menjadi gembongnya para pembangkang. Dalil bahwa iblis dari golongan jin adalah firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Ingatlah ketika Kami berkata kepada para maialakt, ‘Sujudlah kallian kepada Adam!’ maka mereka semua-pun sujud kecuali Iblis. Dia dari golongan jin dan membangkang dari perintah Allah.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Iblis juga memiliki keturunan, sebagaimana umumnya jin lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

Iblis itu dari golongan jin, dan dia membangkang terhadap perintah Rab-nya. Akankah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai kekasih selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian…” (QS. Al-Kahfi: 46)

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
sumber : konsultasisyariah.com

Seperangkat Alat Shalat Sebagai Mahar Nikah, Sahkah?

Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?”

“Saya hafal surat ini dan surat itu,” jawabnya.

“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Iya,” jawabnya.

“Kalau begitu, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surat-surat Al-Qur`an yang engkau hafal,” sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)

Jurnal Salafiyun

Oleh: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

Sahkah seperangkat alat shalat dijadikan mahar nikah atau mas kawin?

Imam Nawawi memberikan sebuah kaedah berharga mengenai manakah yang bisa dijadikan mahar atau mas kawin. Beliau menyebutkan,

ﻭَﻣَﺎ ﺻَﺢَّ ﻣَﺒِﻴﻌًﺎ ﺻَﺢَّ ﺻَﺪَﺍﻗًﺎ

“Segala sesuatu yang bisa diperjualbelikan berarti sah untuk dijadikan mahar.” (Minhaj Ath Tholibin, 2: 478)

Lihat pos aslinya 652 kata lagi