Menolong Daulah Dari Serangan Pasukan Ahzab Kuffar, Munafik, Murtaddin Adalah Tali Keimanan yang Paling Kuat
Maktab al Himmah
Daulah Islamiyyah

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhamad shallallahu alaiihi wa sallam.

Tidak ada yang tersembunyi dari kalian pada hari ini wahai kaum Muslimin yang cerdas, kalian tahu bagaimana sekte-sekte kafir, murtad, dan munafiq dari kalangan Arab maupun non Arab berkoalisi untuk memerangi Daulah Islamiyyah. maka  saksikanlah bagaimana  mereka mengerahkan, mengumpulkan, berkonsultasi, menyiapkan bala tentara merekauntuk menindas umat Islam yang lemah, mereka disetir oleh pasukan pembawa Salib Amerika, sampai akhirnya masih berlanjut peperangan antara  wali-wali Allah dan wali-wali setan, jarak antara mereka hanya antara dua kurung atau bahkan lebih dekat.

Dan meskipun fakta itu telah jelas dan kebenaran sudah terungkap; kamu akan dapati sebagian orang bertanya-tanya, “Kepada siapa aku berpihak? Dan apa pendirianku dalam masalah ini?”

Maka dengarkanlah kalimat ini wahai orang miskin; sungguh perkara ini sangat agung, dan demi Allah sungguh kedua kubu ini bagaikan kubu yang sudah di kabarkan oleh Rosulullah sholallahu alahi wasallam, “Kubu yang ada iman tanpa kekufuran di dalamnya, dan kubu yang ada kekufuran tanpa iman!”

Allah berfirman, “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin,  melainkan orang-orang beriman. barang siapa yang berbuat demikian , niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali jika itu karena siasat(menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka) , dan Allah memperingatkan kamu akan (siksa)Nya. Hanya kepada Allah tempat kembali.”

Dan Rosulullah sholallahu alaihi wassalam, “Tali keimanan yang paling kuat adalah kasih sayang karena Allah dan bermusuhan karena Allah,dan cinta karena Allah dan benci karena Alla.” [Riwayat Thabrani, Hasan]

Dan Rosulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang mencintai karena Allah dan benci karena Allah, mendukung sesuatu karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka dengan itu akan mendapatkan penjagaan dari Allah, dan seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman meskipun dia sering shalat dan puasa sampai dia menjadi seperti itu,” [Jamiul Uluum wal Hukum li Ibni Rajab al Hanbali]

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhamad bin Abdul Wahab berkata dalam penjelasan perkataan Ibnu Abbas:

Membela karena Allah bermakna wajibnya cinta karena Allah, dengan cara membelanya, hal itu menunjukkan bahwa hanya sekedar mencinta tidaklah cukup, akan tetapi di situ harus ada pembelaan dan pengorbanan yang mana itu adalah bukti dari kecintaan itu, yaitu pertolongan, penghormatan dan ketundukan baik secara lahir maupun batin, dan perkataannya.

Sedangkan (memusuhi karena Allah)  adalah penjelasan atas konsekuensi  dari sikap benci karena Allah, dan menampakkan permusuhan itu dengan perbuatan, contohny dengan jihad melawan musuh-musuh Allah, dan berlepas dari kekufuran mereka dan menjauhi mereka secara dzahir maupun batin. Itu semua menunjukan bahwa sekedar membenci dengan hati tidaklah cukup, akan tetapi juga harus melakukan konsekuensinya, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Sungguh telah ada suri tauladan  yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian sampai selama lamanya, hingga kalian beriman kepada Allah saja.” [Taisiir al Azis al Amid Syarh Kitab Tauhid]

Oleh karena itu telah ditetapkan dalam syariat yang suci ini, dan sangat harus diketahui dari segi agama bahwa wala’ dan bara’ merupakan dasar atau landasan agama, tanpanya  tiada Dienul Islam dan juga keimanan.

Kalau begitu, apa pengertian dari al wala’ dan bara’? Dan apa kedudukannya dalam agama?  Lalu apa yang diwajibkan bagi umat Islam untuk merealisasikan al wala’ wal bara’?

Syaikh Hamud bin Uqola’ as Sya’bi rahimahullah ketika beliau ditanya tentang bagaimana sikap dalam permasalahan peperangan antara pasukan Salib dengan Afghanistan, menjawab dengan ringkas dan padat:

Al wala’ dari segi bahasa di ambil dari kata ‘waala yuwaali muwaalah’ dan wala’ berwali kepada seseorang, yaitu mencintainya dan mengikutinya, dan walaayah artinya pertolongan, dan penjagaan, bisa juga dengan arti mendekat padanya. Itu secara bahasa, adapun wala’ maknanya dari segi syar’i yaitu seorang hamba yang berwala’ dengan Allah dan RosulNya dengan cara melaksanakan semua perintahNya  dan menjauhi semua larangannya dan cinta dalam menolong wali-wali Allah yaitu kaum mu’minin.

Adapun bara’ dari segi bahasa diambil dari kata ‘baroya’ yang artinya memotong. Kata baroya qolam artinya memotong pensil, dan maksud daripada ini adalah memutus hubungan dengan kuffar, maka tidak boleh mencintai mereka, menolong mereka, dan tinggal di daerah mereka. Adapun bara’ secara syar’i adalah menjauh dan memusuhi, di katakan dia berlepas diri dari kuffar jika dia telah memutus hubungan antara dia dan dan mereka dan tidak menolongnya, tidak  mencintainya, dan tidak memintakan untuk mereka pertolongan .

Dan kedudukan al wala’ dan bara’ di dalam Islam adalah sesuatu yang sangat urgen dan agung, wala dan bara’ merupakan dasar dan pondasi keimanan.

Maka tidak sah iman seseorang tanpa keduanya, oleh karena itu wajib atas seorang  muslim berwali hanya karena Allah, cinta karena Allah, benci karena Allah dan memusuhi karena Allah begitu seterusnya, jika dia sudah mampu melakukan hal itu maka secara otomatis dia adalah wali Allah, adapun orang yang berwala’ kepada kaum kuffar dan menjadikan mereka sebagai sahabat dan teman-teman mereka,maka Allah memberi peringatan pada mereka.

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setiamu, mereka satu sama lain saling melindungi, barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya kamu termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”  [Al Maidah 51]

Di dalam al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tidak diperbolehkannya menjadikan orang kafir sebagai wali atau teman sejati.

Allah berfirman, “Wahai oang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang.” [Al Mumtahanah 1]

Maka bara’ (berlepas diri) merupakan dasar pijakan sehingga dengan bara’ tersebut Aqidah Islamiyyah bisa tegak dan kokoh yaitu dengan cara menjauhi orang kafir, memusuhinya dan kemudian memutus hubungan dengannya , maka tidaklah sah iman seseorang sampai dia memusuhi dan benci dengan kuffar, kaum murtaddin, dan orang munafiq, dan berlepas diri dari mereka meskipun mereka adalah kerabatnya atau sanak familinya.

Allah subhanahu wa taala berfirman, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya, mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Lalu dimasukkannya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, Allah ridho terhadap mereka, dan mereka merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntug.” [Al Mujadilah 22]

Ayat tersebut menerangkan baahwa iman tidak bisa terealisasikan kecuali bagi siapa yang menjauh dari orang kafir yang menentang Allah dan RasulNya, dan juga berlepas diri dari mereka, dan memusuhi mereka walaupun mereka adalah kerabat yang paling dekat dengan kita, Allah telah memuji kekasihnya ibrahim alaihi sallam ketika beliau berlepas diri dari ayahnya, kaumnya dan sesembahan mereka seraya berkata dalam firman Allah, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri  dari dari apa yang kamu sembah’.[Az Zukhruf 26]

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita supaya meneladani kekasihnya Ibrahim alaihi sallam, dari segi tauhidnya yang murni dan berlepas dirinya dari kaum musyrikin, Allah berfirman, “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai beriman kepada Allah saja,’ Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ Ibrahim berkata, ‘Yaa Tuhan kami,hanya kepada engkau kami bertawakal dan hanya kepada engkau kami bertaubat dan hanya kepada engkaulah kami kembali.’ “ [Al Mumtahanah 4]

Adapun membantu orang-orang kafir dalam memerangi umat Islam, dan saling membantu dengan mereka, maka hal tersebut adalah sesuatu kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, sebagaimana yang tercantum dalam perkataan para ulama baik ulama salaf atau khalaf, Imam Al Mujaddid Ibnu Wahab berkata:

“Pembatal keislaman yang kedelapan adalah membantu kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memerangi kaum muslimin,”

Dan berkata juga ahli hadist aalim Ahmad Syakir semoga Allah merahmatinya dalam penjelasan hukum membunuh kuffar dan memerangi mereka, di situ diterangkan perangnya Inggris terhadap Mesir, “ Diwajibkan bagi setiap muslim di belahan bumi manapun untuk memerangi mereka di mana saja mereka dapati baik itu warga sipil maupun militer..”

Adapun saling membantu dengan Inggris apapun bentuknya itu, sedikit maupun banyak maka itu adalaah kemurtadan dan kekufuran yang nyata, tidak diterima maafnya, tidak ada manfaatnya sama sekali ta’wil mereka, dan ashobiya yang bodoh tidak akan menyelamatkanya dari hukuman  dan tidak juga politik yang cacat, ataupun toleransi yang munafiq, entah yang melakukan itu perorangan, atau pemerintahan, bahkan pembesar-pembesar suatu kaum pun, semua sama dalam kemurtaddan tidak ada bedanya.

Berdasarkan hal ini, maka siapa saja yang membantu negara kafir dalam memerangi kaum muslimin seperti negara Amerika dan kawan-kawannya yang sama kekafirannya, maka dia telah menjadi kafir murtad (keluar) dari Islam, apapun itu bentuk bantuannya, karena ini merupakan perang ideologi yang masih di dengung-dengungkan oleh anjing Romawi dan temannya dalam kekafiran (kepala kementrian Inggris) yang mana keduanya mengklaim bahwa mereka memerangi teroris yang mereka namakan sebagai perang Salib seperti halnya pendahulu-pendahulu mereka dari kelompok Salibis yang melawan Islam dan kaum muslimin menurut sejarah yang lampau.

Dan penjahat Bush telah berterus terang tanpa basa basi saat dia mengatakan, “Kita akan mengobarkan perang salib”. Entah dia mengatakan itu secara sadar atau tidak tetapi inilah yang di yakini dan dipercaya oleh dia dan semisalnya dari penguasa-penguasa kafir.

Permusuhan dan kedengkian atas Islam dan muslimin dari pihak para Salibis dan Yahudi ini, sudah tidak mengherankan lagi, karena kekafiran meskipun banyak macamnya, tapi pada hakekatnya mereka adalah satu dalam memusuhi umat Islam dan dengki atasnya, akan tetapi yang mengherankan dan super heran adalah pada sebagian pemerintah yang mengaku dirinya Islam dan juga sebagian kaum muslimin, dan mereka mempersembahkan pertolongan dan memberikan kaum kuffar banyak fasilitas, baik dari daratan maupun udara dan juga basis mereka. Supaya orang-orang kafir memakainya untuk memerangi kaum muslimin.

Dengan realita yang seperti ini maka kami menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk bersegera menolong saudara-saudara mereka para Mujahidin dengan segenap kemampuan mereka  dalam bentuk jiwa, harta, dan doa. Dan juga kami wasiatkan kepada ikhwah para mujahid agar selalu sabar dan istiqomah dan tidak takut mati dalam melawan musuh-musuh Allah, dan kita semua berharap kepada Allah supaya rumah-rumah kaum muslimin menjadi kuburan bagi mereka penyembah Salib dan kaum murtaddin sebagaimana telah menjadi kuburan bagi para pendahulu mereka dari golongan para thaghut yang sombong lagi congkak.

Dan juga kami ingatkan ikhwah sekalian yang berperang di jalan Allah dengan keadaan kaum muslimin pada saat perang Ahzab, ketika kekuatan musuh mengeroyok kaum muslimin, dan kuffar bersekutu dalam memerangi kota Madinah , dan ingin membasmi kaum muslimin sampai ke akar-akarnya.

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kekuatanNya memecah belah kekuatan mereka, menggoncangkan mereka dan menolong Nabinya dan siapa-siapa yang bersama beliau.

Dan pada hari ini sejarah terulang dengan sendirinya, agama-agama kafir dan para penghianat kembali untuk memerangi kaum muslimin lagi,

Dan terkhusus bagi orang-orang yang tinggal di Daulah Islam hendaknya mereka menolong Daulah Islamnya di Iraq, Syam dan di semua tempat dengan segenap kemampuannya baik dalam bentuk harta, jiwa atau ajakan, dan hendaklah membela kehormatan para mujahidin, menolong mereka dan bergembira dengan kemenangan mereka dan sedih atas kekalahan mereka,dan mengangkat tekad mereka, demi Allah yang tiada tuhan selainnya itu merupakan tali keimanan yang paling kuat, sebagai mana jua sebaliknya.

Bergembira atas kekalahan muslimin dan senang dengan kemenangan orang kafir di bumi ini itu merupakan kemurtadan yang nyata dan megeluarkanya dari agama Islam.

Wahai saudara ku kaum muslimin, Daulah islam yang dibangun dengan darah dan jasad anak-anak kalian, saudara kalian para mujahidin dan di hadist diriwayatkan dengan darah para syuhada , dan membayar harganya para tawanan baik laki-laki atau perempuan, maka dia tumbuh dan menjulang tinggi sampai terbitnya cahaya yang tinggi. Dan membuat musuh-musuh marah, dan sampai menjadi  kelezatan bagi orang-orang yang lemah dari kaum Muhajirin.

Daulah ini bukan cuma daulah kami saja, namun bahkan dia adalah daulah kalian juga , dan bukan cuma kami yang bertanggung jawab untuk membelanya! Tetapi kalian juga dituntut akan hal itu.

Jika Allah menakdirkan Khilafah ini runtuh -tanpa itu tubuh kita terpotong-potong-, demi Allah, demi Allah, kaum rafidha, pasukan salibis, liberalis akan meracuni kalian dengan seburuk adzab, dan mereka akan menyembelih  anak-anak kalian, dan tak membiarkan hidup wanita -wanita kalian, mereka akan merampok harta kalian, menghancurkan masjid-masjid kalian dan akan membakar mushaf-mushaf kalian.

Dan yang terakhir tidak luput dari kami untuk memberi kabar gembira kepada umat Islam bahwa anak-anak mereka para Mujahidin di Daulah Islamiyyah telah menyerahkan semua urusannya dan mereka berbaiat untuk mati , dan mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan yang paling sulit, dan jawaban itu adalah yang kalian lihat dengan izin Allah bukan yang kalian dengar, dan kemuliaan itu milik Allah, RasulNya dan juga kaum mukminin.

Alih Bahasa:

Tim Azzam Media

Iklan