Daulah Islamiyyah

Departemen Wakaf, Dakwah Dan Urusan Masjid
Wilayah Al Barakah, Kantor Dakwah Syaddadi

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah yang diutus dengan pedang menjelang kiamat sebagai rahmat bagi sekalian alam. Amma Ba’du.

Telah muncul di hadapan kita hari-hari ini orang yang berkoar-koar di dalam layar televisi dan radio sembari memotong beberapa patah kata dari kitab-kitab induk, mengumpulkan topik-topik yang berbeda, membedakan topik-topik yang serupa, dan berpaling dari ungkapan-ungkapan yang muhkam (jelas/baku maknanya) demi memuaskan para pengikut hawa nafsu, dan dia melontarkan berbagai syubhat kepada kaum muslimin, serta mendatangkan kesesatan-kesesatan besar, seperti pengguguran ayat-ayat yang sangat jelas tentang puncak menara segala ibadah (yakni jihad), demi melindungi darah tuan-tuannya dari kalangan para penyembah salib dan kaum murtaddin yang loyal kepada mereka, serta dalam rangka pengguguran gratis bagi nyawa setiap muslim dan mujahid.

Dan bencana besarnya adalah bahwa mereka itu dianggap sebagai para ulama!! Bahkan sebagian mereka itu menyandang gelar-gelar akademi dalam bidang ilmu syari’at!! Alangkah seringnya gelar-gelar ini berbuat aniaya terhadap umat ini akibat tindakan orang-orang yang mengumpulkan ilmu namun mereka tidak menjaganya, dan mereka menimba ilmu syari’at dengan hati syaitan dan niat orang-orang munafiq.

“Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Sungguh betapa buruknya apa yang mereka kerjakan.” (At Taubah 9)

Engkau heran sekali terhadap orang yang menghalalkan darah kaum muslimin dan mengharamkan darah orang-orang kafir!! Di mana bila ada orang kafir salibis atau orang murtad pendengki dibunuh, maka dia bangkit mencela tindakan itu, padahal pada waktu yang bersamaan dia itu tidak mengusik apapun dan tidak berbicara sepatah katapun tentang hukum membunuh satu bangsa muslim secara keseluruhan. Ya sesungguhnya mereka itu ulama pemerintah (Salafiy Klaimer anak-cucu Bul’am Ibnu Ba’ura!) dan begitu juga Ahbar (ulama) Al Hizb Al La Islamiy (para pemakai surban busuk dan para pemilik fatwa-fatwa bayaran, yang mana mereka itu tidak singgah di bumi jihad kecuali mereka hanya merusaknya!), mereka telah meninggalkan syari’at yang muhkam dan mereka telah menukar cahaya langit dengan kegelapan-kegelapan bumi berupa sampah-sampah pendapat, dan pahatan pemikiran dan hawa nafsu, di mana mereka itu berdamai dengan penjajah salibis dan melegalkan agama demokrasi serta menyematkan padanya gaun keabsahan, sehingga tepatlah bagi mereka itu firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.” (Al A’raf 175)

Dan tatkala syubhat-syubhat ini telah merebak dan apinya telah melahap para pengikut syahwat, maka wajib atas kaum muslimin untuk kembali kepada Kitab Rabb mereka dan Sunnah Nabi mereka sesuai dengan pemahaman Salaf mereka supaya mengetahui hukum Pencipta mereka tentang apa yang menimpa mereka berupa musibah-musibah yang besar dan bencana-bencana yang sangat dasyat itu.

Maka kami katakan kepada kaum muslimin di Negeri Dua Aliran Sungai (Iraq):

Sesungguhnya penegakkan syari’at Allah Ta’ala dan pengembalian hak-hak yang dirampas serta pengusiran penjajah salibis dan kaki tangannya itu tidak bisa dengan cara melebur ke dalam dinas keamanan pemerintah boneka atau dengan ikut serta di dalam pemilu demokrasi yang menjadikan kedaulatan hukum pada tangan rakyat bukan pada Allah Ta’ala, dan tidak juga dengan cara mengadakan konfrensi-konfrensi dan demontrasi-demontrasi damai, tapi hal-hal itu hanya bisa diraih dengan jalan jihad dan perang, dan hal itu telah ditunjukkan oleh nash-nash syar’iy dan ijma ulama Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. ” (At Taubah 41)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memberitahukan kepada kita bahwa meninggalkan jihad dan cenderung kepada dunia itu adalah sebab kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kembali kepada jihad adalah kembali kepada dien dan ‘izzah (kejayaan), di mana beliau berkata:

“Bila kalian berjual beli dengan cara ‘inah (riba), dan kalian mengikuti ekor-ekor kerbau, dan kalian merasa puas dengan pertanian, serta kalian meninggalkan jihad, maka Allah pasti kuasakan atas diri kalian kehinaan yang tidak akan Dia angkat sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Al Hakim)

Dari Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Tidaklah satu kaum-pun meninggalkan jihad melainkan Allah pasti menimpakkan adzab secara merata kepada mereka.”(Diriwayatkan oleh Ath Thabaraniy – Shahih)

Oleh sebab itu, wahai para pemuda Islam, kalian adalah para pendekar Hiththin, Yarmuk dan Qadisiyyah. Jalan kalian adalah jalan kemuliaan dan panji kejayaan adalah milik kalian, pegang-teguhlah Manhaj Panglima Mujahidin Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau berkata:

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, ingin sekali aku berperang di jalan Allah terus aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi dan kemudian aku terbunuh, kemudian aku berperang lagi dan kemudian aku terbunuh lagi.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Ibnu ‘Abidin yang mana beliau adalah tergolong ahli fiqh senior di Madzhab Hanafiy (rahimahullah) berkata seraya menjelaskan hukum syari’at prihal melawan musuh yang menjajah lagi menyerang:

“Dan fardlu ‘ain, bila musuh menyerang salah satu tsughur Islam, maka ia menjadi fardlu ‘ain atas orang yang dekat darinya, dan adapun orang yang di belakang mereka yang jauh dari musuh maka ia adalah fardlu kifayah bila mereka tidak dibutuhkan, namun bila mereka dibutuhkan, umpamanya orang-orang yang dekat dengan musuh tidak mampu melawan musuh atau mereka itu sebenarnya mampu namun mereka itu malas-malasan dan tidak berjihad, maka hal itu menjadi fardlu ‘ain atas orang-orang yang dekat dengan mereka seperti fardlu ‘ain-nya shalat dan shaum, mereka tidak boleh meninggalkannya, kemudian yang berikutnya dan kemudian yang berikutnya sampai menjadi fardlu atas semua orang islam di timur dan barat, sesuai dengan urutan ini.” (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 3/238)

Dan terakhir, kami katakan kepada kaum muslimin: Jauhilah manhaj kepengecutan dan kehinaan yang panjinya dihusung oleh Al Hizb Al Istislamiy dan oleh sebagian kelompok-kelompok yang pernah melakukan perlawanan atau mengklaim perlawanan yang mulia!!! Maka apa yang mereka raih dari akibat manhaj mereka yang busuk itu selain kekalahan dan tambahan kenistaan di hadapan Salibis Penjajah serta upaya tulus pelayanan kepadanya lewat jalan keikutsertaan mereka di dalam mendirikan batalion-batalion kemurtaddan dengan nama Shahawat, semua itu dalam rangka meraih kepentingan-kepentingan pribadi dan jabatan-jabatan dunia.

“Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy Syu’ara 227)

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapinkebanyakan manusia tidak mengerti.” (Yusuf 21)

 

(1). Lihat (Kitab Ad Difa’ ‘An Aradli Al Muslimin Ahammu Furudlil A’yan) milik Asy Syaikh Asy Syahid Abdullah ‘Azam rahimahullah.

____________________

Alih Bahasa: Syaikh Abu Sulaiman Al Arkhabiliy

Editor: Tim Azzam Media

Iklan